Melanjutkan Cerita Awal Februari jalan ke Rangkasbitung, setelah rehat sejenak di alun-alun Rangkasbitung, saya pun mulai melanjutkan rencana mau ke museum Multatuli. Tapi... Saya belum juga tahu letak persisnya museum itu ada di mana gerangan?
Saya coba cek di maps, katanya jalan kaki hanya 250 meter. Wow.. berarti sudah dekat, ya. Makin semangatlah saya. Tapi biar semakin jelas, saya bertanya lagi pada pengunjung alun-alun. Asyik.. sudah dekat sekali. Dia langsung memberitahu dengan senang hati. Asyik.. teryata sudah dekat sekali. Dari kejauhan juga sudah terlihat.
Saya pun melangkah menuju arah yang ditunjukan orang. Tentunya sambil saya lihat-lihat alun-alun Rangkasbitung. Bagus alun-alunnya. Fasilitasnya juga lengkap. Selain halaman rumput yang luas, ada jogging track juga. Ada area bermain anak. Beberapa perlealatan berolahrag ajuga ada. Eh, ada lapangan basket juga, lho.
Saya sempat foto di bola biru yang tulisnya Lebak Ruhay. Awalnya saya tidak megerti apa maksudnya. Ternyata Lebak itu semacam semboyan. Lebak ya Rangkasbitung. Ruhay singkatan dari Rukun, Unggul, Hegar, Aman, Yakin.
Tanpa terasa, kaki saya melangkah sudah mendekati museum Multatuli. Tampak tenda penjual ramai. Ternyata di samping museum Multatuli ada perpustakaan Saidjah Adinda. Tapi sayangnya perpustakaan itu tutup di hari Minggu. Jadi saya tidak bisa masuk ke sana deh.
Menyusuri Halaman Museum Multatuli
Saya pun bergegas memasuki halaman museum Multatuli. Mata saya langsung tertarik dengan patung besar Multatuli yang sedang membaca buku di halaman museum. Pastinyya saya harus berselfie di depan patung itu hehehe. Saya pun langsung mengeluarkan tripod andalan baru saya seharga 13 juta wwkwkw… 13 ribu hehehe.
Di area itu selain patung Multatuli yang sedang membaca buku, ada juga sebuah rak buku yang pastinta berisi buku-buku. Klop sekali ya, ada patung orang membaca, ada rak buku.
Nah ada juga patung Adinda, tokoh fiksi pendamping Saidjah dalam cerita Max Havelaar karya Multatuli. Adinda duduk memandang mUltatuli sambil menggenggam seikat bunga. Patung perunggu setinggi 130 sentimeter adalah karya seniman Dolorosa Sinaga. Lah.. Kok pas saya lihat di fotoku si Adinda punya tas putih? Ternyata itu tas pengunjung yang sengaja ditaruh di situ dulu hahaha.
Lho kok musumnya tutup?
Selesai berfoto dengan patung Multatuli, rak buku dan patung Adinda, saya pun langsung menuju pintu masuk museum. Tapi Langkah saya tiba-tiba terhenti saat membaca tulisan CLOSE di pintu. Lho, kok museum tutup, Duh, bagaimana ini, saya sudah datang jauh-jauh.
Untung ada seorang bapak yang yang berada di dekat situ. Saya pun langsung bertanya kepadanya ternyata museum hanya tutup karena jam istirahat. Nanti buka lagi sekitar pukul 1 siang. Saya langsung girang. Saat melihat jam di hapem lima belas menit lagi pukul 1 siang. Saya pun memutuskan untuk duduk sejenak sambil menunggu museum buka.
Serunya Menjelajah Museum Multatuli
Saat sudah pukul 1 siang, Bapak tadi memberitahu saya kalau museum sudah buka. Saya Pun bergegas menghampirinya dan membeli tiket seharga 2 ribu rupiah, sedangkan untuk anak-anak tiketnya hanya seribu rupiah. Sangat terjangkau sekali. Saya pun dengan semangat langsung memasuki ruangan museum Multatuli Rangkasbitung.
Begitu membuka pintu masuk , saya langsung disambut dengan mozaik keren wajah Multatuli. Yang menarik perhatian saya adalah tulisan di di dinding : Tugas Manusia adalah menjadi manusia. Maknanya tentu saja sangat dalam. Di dekat mozaik ada maket museum Multatuli dalam kaca.
Di sebelah kanan dari arah pintu masuk, ada prasasti peresmian museum Multatuli yang diresmikan oleh Bupati Lebak Hj. Iti Octavia Jayabaya pada 18 Februari 2018. Sedangkan di sebelah kiri arah pintu masuk, ada patung dada Multatuli
Memasukin ruang kedua, saya langsung disambut oleh replika kapal De Batavia. Krmudian dipamerkan juga rempah-remah Indnesia yang menjadi incaran bangsa lain. Ada pala, Lada, cengkih, dan kayu manis. Ada kotak kau dan peti unuk menyimpan rempah-rempah.
Selanjutnya kai saya melangkah menyusuri ruang pribadi Multatuli dan novel Max Havelaar. Di runag ini saya melihat berbagai barang koleksi pribadi Multatuli. Termasuk penutup kepala yang dikenakan. Selanjutnya dipamerkan juga novel dalam kotak kaca. Ini karena usianya sudah tua, dan biar tidak semakin rusak dipegang tangan-tangan pengunjung.
Saya terus semnagat menyusuri museum Multuli. Saya pun sudah sampai di ruang yang menampilkan Sejarah Banten dan pergerakan Masyarat melawan Kolonial. Tulisan dan gambar di dinding sangat bercerita. Yang menarik perhatian saya adalah tiang gantungan. Sepertinya tianh tu dignakan untuk mengantung masyarat pribumi yang melawan dan mendapatkan hukuman.
Tidak jauh dari tiang gantungan, ada rantai bola besi kaki. Ehm.. Miris sekali melihatnya. Saya membayangkan bagaimana penderitaan di zaman penjajahan.
Selanjurnya saya melangkah ke ruang Sejarah dan budaya lebak. Di rungan ini terpajang foto yang bercerita tentang Sejarah dan budaya lebak. Saya semakin jelas karena da keterangan dan tahun di bawah setiap foto. Salah satu foto adalah stasiun kereta Rangkas bitung. Wah.. tenryata keadaannya seperit itu. Saya bisa jadi membandingkan dengan keadaan sekarang. Apalagi saya baru saja menginjakkan kaki di sana
Ruangterakhir yang saya jelajah adalah Sejarah Rangkasbitung dan profil sejarah terkait. Yangmearik ada puisi WS Rendra di dinding. Ada dua bangku zigzag di tengah ruangan. Di ruangan ini sekaligus pintu keluar museum juga.
Wah, senangnya. Akhirnya saya selesai juga menyusuri museum Multatuli. Senang dan puas rasanya. Pengetahuan jadi bertambah. Dan museum Multatuli ini sangat rekomended ini untuk dikunjungi.











Komentar
Posting Komentar