Langsung ke konten utama

Jalan-Jalan ke Kawasan Kota Tua (Bagian2 : Museum Bank Indonesia)


      Jalan-Jalan ke Kawasan Kota Tua (Bagian2 : Museum Bank Indonesia)-Salam, teman-bisa mampir ke sini, ya!teman. Kemarin kan, teman-teman sudah mengajak teman-teman menyusuri museum Bank Mandiri. yang belum membacanya, bisa mampir ke sini, ya!
      Nah, sekarang saatakan  melanjutkan kembali perjalanan saya menyusuri wisata kota tua Jakarta. Kali ini, saya akan mengajak teman-teman mengunjungi museum Bank Indonesia. Apa sih, bedanya museum Bank Mandiri dengan Museum Bank Indonesia? Daripada penasaran, yuk kita mulai perjalanan saja.

Serunya Menyusuri Museum Bank Indonesia
       Setelah keluar dari museum Bank Mandiri, saya lalu belok ke kiri. Cukup berjalan kaki saja, soalnya museum Bank Indonesia berada pas di samping museum Bank Mandiri.
Sebelum masuk ke museum, sejenak saya mengagumi dulu arsitektur gedung museum Bank Indonesia ini. Memang bangunan zaman dulu itu keren-keren. Selain arsitekturnya keren, bangungannya juga kokoh.

                                     
      Setelah puas memandang bangunan museum Bank Indonesia, saya pun melangkah masuk. Ternyata jam operasional museum Bank Indonesia ini,  sama dengan jam operasional museum Bank Mandiri. Jadi hari selasa sampai minggu buka. Hari senin dan libur nasional tutup. 


       Saya menapaki anak-anak tangga. Tentu saja, saya harus membeli tiket dulu. Tiketnya juga 5 ribu untuk umum. Jadi dijamin tidak menguras isi dompet hehehe. Setelah membeli tiket, saya menuju penitipan tas dulu. Walau tas saya sih, ukurannya kecil hehehe.


       Setelah titip tas, saya segera menuju pintu masuk museumSuasana di sini lebih ramai, dibandingkan di museum Bank Mandiri tadi. Museum Bank Indonesia  ini baru diresmikan kembali tahun 2009. Jadi desainnya dalamnya sangat moderen. Di pintu masuk, ada dua orang petugas. Mereka dengan ramah menyambut kedatangan saya. Apa karena mereka tahu ya, kalau saya ini penulis cerita anak terkenal, dan mantan kaverboy ya hahaha.... gaya benar saya ini.



     
        Sebelum masuk museum, ada semacam lobi. Di sini tersedia komputer yang berisi info gedung museum Bank Indonesia. Ada juga display tentang info museum Bank Indonesia. Saya hanya sebentar di area ini, karena sudah tidak sabar ingin melihat isi museum Bank Indonesia.



       
      Pintu masuknya keren sekali. Saya langsung disambut dinding yang ada layar proyektornya. Terus bentuk  ruangannya juga keren. Pencahayaan sengaja dibuat remang-remang. Saya pun semakin bersemangat.


     
      Setelah area proyektor, ternyata ada bioskop mini. Sayang pas saya datang, belum ada jam pertunjukan. Saya pun lanjut melangkah ke area selanjutnya.


       Area selanjutnya adalah, zaman sebelum kemerdekaan. Jadi di sini digambarkan bagaimana Indonesia kala itu. Indonesia adalah negara bahari. Teman-teman pasti masih ingat kan, semboyan “Nenek Moyangku adalah Seorang Pelaut”.



       Di Area ini dipamerkan  hasil-hasil.rempah Indonesia. Seperti Pala, cengkih (ternyata bukan cengkeh), lada, kaymanis dan lainnya. Ada juga kapal dan alat-alat kapal. Di sisi selanjutnya, dipamerkan para pelaut tangguh dari negara-negera lain yang pernah mampir ke Indonesia.





     Saya pun lanjut melangkah.  Kali ini, saya memasuki area zaman perdagangan. Darea ini ditampilkan diorama bagaimana orang bule bertransaksi di Indonesia. Patung-patungnya keren lho, seolah-olah nyata. Saya takut saja dikerjain. Siapa tahu dikira patung, padahal.orang hehehe.




       Kita lanjutkan perjalanan, ya. Area selanjutnya adalah zaman penjajahan. Di dinding dipajang foto-foto zaman dulu. Termasuk.bangunan museum Bank Indonesia zaman dulu. Eh, di area ini ada yang keren juga, loh. Di lantai ada 4 lemari kaca berbentuk bundar. Isinya ada baju tentara Belanda, baju tentara Jepang, juga baju pejuang Indonesia.





      Nah, area selanjutnya adalah lahirnya.Bank.Indonesia. Begitu memasuki area ini, saya melihat logo-logo Bank Indonesia dari masa ke masa. Di sini.juga ada diorama yang menggambarlan kegiatan orang bertransaksi.di bank. Keren lho.




     Saya terus semangat melangkah. Area selanjutnya adalah area.zaman Indonesia merebut kemerdekaan. Di sini juga ditampilkan diorama.setelah area ini, dilanjut area setelah kemerdekaan saat Indonesia membangun. Juga saat krisis moneter, saat banyak.bank tutup
Area tetakhir, diorama-diorama tentang pentingnya menabung.








       Jadi museum Bank Indonesia ini menggambarkan tentang sejarah Bank Indonesia hadir di Indonesia. Ruang pamernya keren. Kita seperti menyusuri sebuah lorong panjang. Suasananya remang-remang. Terus diiringi lagu bertema perjuangan yang dinyanyikan oleh bapak-bapak Saya jadi teringat Istana Boneka di Dufan Ancol hehehe.
       Puas melihat-lihatSaya lanjut melangkah Eh, di salah satu sisi ada dipajang banyak telepon.  Saya sempat kager, karena salah satu teleponnya tiba-tiba bordering. Eh, tidak lama telepon lain ikut berdering dan bergerak-gerak. Saya tertawa geli sendiri hehehhe.



       Sehabis tertawa geli, saya lanjut melangkah. Dari sini, saya memasuki ruang-ruang kerja pada pejawat Bank Indonesua. Meja, kursi dan pernak-pernik.lainnya masih asli semua. Saya suka ukuran kursi dan mejanya. Vintage.



        Lanjut dari sini, ada area untuk santai. Saya bisa duduk sejenak. juga bisa nonton film pengetahuan tentang seputar bank. Bisa menambah pengetahuan lagi, nih.


Begitu masuk.ke area selanjutnya, eh ternyata masih ruang kerja pejabat Bank Indonesia lagi. Di sini juga dipajang foto-foto orang-orang yang pernah memimpin Bank.Indonesia.







       Keluar dari.sini, Saya masuk ke sebuah ruangan. Mungkin ini ruang rapat. Soalnya ada.meja besar yang dikelilingi banyak.kursi. Ada juga jam yang menyatu di tembok ruangan yang usianya sudah ratusan tahun, dan telepon berdiri. Juga ada beberapa alat dunia  pebankan yang ditampilkan. Saya senang, karena barang-barang yang dipamerkan ada informasinya juga. Pengetahuan saya jadi bertambah.



     Nah keluar dari ruangan sini, ternyata ada satu ruangan lagi. Saya langsung saja masuk. Ternyata tempat pamer uang. Dari uang kepeng, uang logam, sampai uang kertas. Bukan dari Indonesia saja lho. Tapi juga dari negara lain.
       Displaynya sangat menarik. Uang yang dipamerkan berada dalam kotak-kotak kaca. Di beberapa.kotak.kaca, malah disediakan kaca pembesar yang bisa digeser-geser. Jadi saya bisa melihat dengan jelas uang yang dipamerkan.




      
       Di salah satu sisi, saya melihat ada pintu-pintu. Awalnya saya bingung, itu apa, ya? Pas saya tarik salah satu pintu. Voilaa... ternyata itu pintu kaca. Di dalamnya dipamerian uang dari negara-negara lain. Keren sekali.

                            
     
      Puas melihat koleksi uang, saya keluar dari area ruang pamer koleksi uang. Ternyata perjalanan saya di museum Bank.Indonesia.sudah selesai. Saya pun keluar dari gedung Bank Indonesia dengan hati senang.
       Ehm.. kira-kira saya mau kemana lagi ya? Penasaran kan? Yuk, ikuti perjalanan saya menyusuri Museum Seni Rupa dan Keramik

Bambang Irwanto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhirnya Mencoba Transjakarta T31 Pik 2- Blok M

Saat mencoba Transjakarta P11 rute Blok M-Bogor , ternyata ada rute baru juga yaitu T31 Blok M - PIK 2 dan S61 Blok M-Alam sutra. Pastinya saya ingin mencoba semua rute baru itum ya. Tapi ya… kapan-kapan saja lah.. Bisa Minggu depan, bulan depan atau tahun depan. Namanya juga kapan kapan hahaha Nah, tidak sengaja Minggu 16 Juli 2025, saya itu mau ke Glodok plaza mencari radio buat kakak saya. Lalu saya iseng naik bus wisata tingkat dari kota tua ke Pantai maju. Ternyata.. begitu memauski Kawasan Pantai indah Kapuk atau PIK, banyak yang mau ke pantai Aloha. Kebetulan nih, saya belum pernah ke sana. Jadi saya ikut saja ke pantai Aloha menyusuri sejenak pantai berpasir putih itu. Sesuatu Tak Sengaja Hampir setengah jam saya menunggu bus wisata tingkat Transjakarta yang memang hanya beroperasi di sekitar Pantai Indah Kapuk, dengan rute dari Tokyo Riverside Apartent di PIK 2 ke PIK Avenue PIK 1. Patunya melewati Pantai Maju dan Pantai Aloha juga.  Nah, saat menunggu  saya, ada Tra...

Jalan-Jalan dari Blok M sampai Bogor

Seperti biasa, Selasa, 10 Juni 2025, saya bangun pukul 5 kurang. Setelah itu saya membantu keperluan ibu saya, termasuk membelikan sarapan. Saya pun langsung membuka laptop, cek ini itu, lalu draf tulisan. Tapi kok Menjelang pukul 7 pagi, kok, saya mengantuk ya? Padahal semalam saya tidurnya kurang dari pukul 12 malam. Tapi memang saya sudah menghabiskan sebungkus nasi uduk plus 2 biji gorengan. Mungkin itu efek ngantuk. Maka saya pun lalu berbaring saja hehe.. Pukul 8 saya terbangun. Kok tahu pukul 8? Kan, begitu mata melek langsung lihat hape, kayak orang-orang hahaha. Ternyata kok hari ini ada orang yang di rumah dan bisa menemani ibu saya. Maka tring… saatnya jalan-jalan cuci mata hahaha. Jalan-jalan dan Tujuan Dadakan Namanya juga rencana dadakan, maka jalan-jalannya dadakan juga. Otak saya harus berpikir cepat mau jalan ke mana, nih. Jangan sampai pergi tak ada tujuan, bagaikan kapal kehilangan arah. Halah gayanya hahaha. Akhirnya, saya memutuskan ingin mencoba rute baru TransJab...

Belajar Mengabadikan Moment sambil Mengenal Sejarah Batavia

Walking Tur menyusuri kota tua, saya sudah sering. Bahkan, saya Pernah ikut keseruan walking tur Kota Tua 2 hari berturut-turut . Tidak hanya menambah pengetahuan saya, tapi juga menambah teman. Nah, kalau walking Tur sambil belajar memotret, ini saya belum pernah. Makanya saat ada pengumuman di akun Instagram kota tua  soal acara bertajuk Jakarta Dock Diaries : History, Click, Vibes, saya lansung daftar. Apalagi di kesempatan sebelumnya, saya telat mendaftar. Dan asyik.. saya dapat kesempatan ikut. Soalnya saya itu memang suka sekali jalan-jalan. Harapan saya sih, bisa keliling Indonesia. Pastinya salah satunya saya pengin liburan ke Takengon , ibukota Aceh Tengah yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah dan udaranya yang sejuk. Maka di hari Sabtu pagi yang cerah, pukul setengah enam, saya sudah meninggalkan rumah menuju stasiun pondok Cina Depok. Seperti biasa, saya naik KRL menuju stasiun Jakarta Kota. Entah saya sudah berapa kali saya ke stasiun kereta yang dulunya b...