Langsung ke konten utama

Jalan-jalan di Penghujung 2025 ke Perpustakaan Jakarta


Ini adalah jalan-jalan di penghujung tahun 2025. Sudah otomtais enustup rangkaian jalan-jalan saya. Tahun ini, Alhamdulillah lumayan banyak saya jalan-jalan ke perbagai tempat. Walau memang kebanyakan di seputar kota Jakarta.

Salah satu pendukung utamanya itu, karena saya selalu mendapat kesempatan diajak ClicKompasiana & Kretoria.  Mulai dari Depo KRL lalu lanjut heritage di Depok, Depo MRT, Istana kepresidenan, stasiun Woosh di Karawang, stadion Jakarta Interntaional Stadium (JIS), sampai akhirnya gongnya ke Kuningan. Terima kasih CliKompasiana & Kreatoria. Semoga Tahun 2026 diberi kesempatan dan ksehatan lagi untuk jalan-jalan. Aamin.

Lanjut soal jalan-jalan di penghujung tahun, saya mau ke mana ya? Ehm.. setelah saya pikir, mending jajan hari Selasa saja deh, di tanggal 30 Desember 2026. Soalnya kalau Jalan tanggal 31 Desember, pasti Sudah ramai.

Nah, kebetulan si Boy saya nama panggilannya Didi,  sudah sudah lama pengin ke perpustakaan Jakarta. Jadi mumpung libur, lets kami ke sana. Kebetulan saya juga jadi anggota perpustakaan di sana. Jadi bisa sekalian pinjam 2 buku.

Sekarang ini, saya memang jarang pergi Bersama Didi. Kalau hari biasa, dia sekolah dan pulang sampai sore. Kalau hari Sabtu Minggu, dia alasannya capek mau di rumah saja. Apalagi dia tahu kalau saya jalan-jalan itu paket murah. asalkan ada isi e-money, bekal air putih juga barangkat. Mungkin dia takut sengsara di jalan wkwkwk.

Makanya kali ini saya sedikit memaksa. Biar Didi semakin yakin, saya belikan dulu berbagai camilan. Saya juga berhasil merayu sik saya untuk memberikan uang jajan pada keponakannya. Berhasil. Sudah aman lah di jalan. Akhirnya Didi mau diajak pergi hehehe.

Yuk berangkat

Menjelang siang, kami baru berangkat. Kayaknya sekitar pukul 11 siang. Saya memastikan dulu urusan ibu saya sudah kelar. Berjemur sudah, termasuk makan menjelang siang. Biar tenang saat jalan-jalan tenang.

Karena perpustakaan Jakarta itu dekat dekat dengan stasiun Cikini, jadi opsi paling tepat memang naik KRL.Maka kami pun naik motor ke stasiun Pondok Cina. Perjalanan 15 menit, kami pun sampai. Setelah parkir motor, kami bergegas masuk. No problem, saya kan, punya beberapa kartu E-Money wkwkwk.. gaya benar saya ini.



5 menit berlalu, KRL tujuan Jakarta Kota pun tiba. Saya bergegas mengajak Didi masuk ke dalam gerbong. Wah.. penuh. Kami pun berdiri. Tak apa, dia dilatih juga hahaa. Sampai stasiun Tanjung Duren ada yang turun. Saya mengajak Didi duduk. Nanti kalau ada yang butuh kursi, dia bisa berdiri lagi. Tapi dia ga mau. Yo wis.. lanjut saja berdiri sampai stasiun Cikini.


Hujan..Oh Hujan

Menjelang KRL masuk stasiun Cikini, saaya lihat kok langit mendung ya. Wih.. akankah turun hujan? Tapi saya tetap berpegang teguh pada syair lagu Ella.. mendung tak berarti hujan, yakinlah itu suatu cobaan hehehe. Jadi saya Santai sja. Apalagi saya sudah bawa 2 payung lipat juga. Jadi masih aman.

Benar saja, saat KRL yang kami tumpangi sampai di stasiun Cikini, hujan sudah turun lumayan deras. Saya pun mengajak Didi menuju pintu keluar. Ternyata setelah turun tangga, sudah banyak orang berteduh di depan pintu keluar.

Saya pun mengajak melipir dulu di depan indomaret yang ada dalam stasiun. Nunggu hujan sedikit reda dulu, baru lanjut jalan kaki ke perpustakaan Jakarta. Kan, tidak lucu kalau nekat menerobos hujan. Biar pakai payung bisa basah.. basah.. seluruh tubuh. ah..ah..ah.. mandi hujan haaha.

Berjalan Menyusuri Jalan Cikini

Akhirnya hujan reda, walau masih menyisakan rintik-rintik. Saya pun mengajak Didi keluar stasiun Cikini. Payung kami kembangkan sebelum menyeberang jalan.

Sekarang enak, dari pintu keluar, bisa langsung menyeberang. Dulu kan harus jalan agak jauh dulu karena ada pagar besi. Bisa sih nekat meloncati pagar. Tapi eits.. takut viral hahaha.

Kami pun berjalan menyusuri trotoar jalan Cikini yang basah. Di beberapa tempat masih ada genangan air. Saya sih, pede aja dengan menggulung celana jins yang saya pakai, lalu menaikkan sampai sebatas lutut. Sandal gunung yang saya pakai ini sudah aman menerjang air yang menghadang Langkah saya hehehe.

Didi sempat berkomentar, “Tuh, kan, untung tadi pakai sandal gunung saja.” Kali ini saya setuju sih. Awalnya saya memnag menyuruh dia pakai Sepatu. Tapi dia kekeuh pakai sandal gunung aja. Apalagi setelah tahu kalau kami mau jalan menuju perpustakaan Jakarta haha. Biar terlihat kompak, saya ganti juga Sepatu yang sudah pakai dengan sandal gunung hehehe

Hore.. smpai TIIM

Perjalanan menuju Perpustakaan Jakarta cepat saja. Mungkin karena saya sudah sering ke perpustakaan Jakarta dan juga suka berjalan kaki. 

Didi juga sebenarnya juga termasuk kuat berjalan kaki. Waktu kecil sudah saya ajak keliling Monas, Taman Mini, Ancol Sea world. Kalau saya tidak sempat jemput, dia jalan kaki saja sepulang sekolah.

Airnya kami smpai TIIM. Tapi sebelum ke perpus,  selfie dulu ah. Kali ini saya aman ada yang fotoin. Tapi tetap harus diarahkan, karen kadang hasilnya tak sesuai harapan. Tidak lupa foto juga dong, foto di depan patung Ismail Marzuki.



Menyusuri Perpustakaan Jakarta

Setelah itu, sya langsung mengajak Didi menuju perpustakaan. Kami akan masuk lewat pintu di lantai 4. Wah.. ternyata sudah antre pengunjung yang mau masuk. Kami pun masuk barisan.

Sambil menunggu giliran masuk, saya mengecek aplikasi perpustakaan Jakarta di ponsel saya. Eh.. kok saya  lupa password hahaha. Saya coba ingat-ngat kok lupa.. ya namany juga lupa kan…hahaha

Akhirnya pas giliran masuk, saya tetap sukses tak berhasil ingat dan tak berhasil masuk e akun sya. Saya pun tanya ke petugas. Katanya masukin NIK saja. Perasan sudah tadi, tapi ga bisa. Akhirnya kami melipir dulu. Sya pun coba lagi. Eh.. kok bisa? Tadi kurang konsen kali ya, karena sarapannya bukan nasi uduk tambah bakwan 2 biji hhaha



Setelah berhasil masuk, kami pun langsung menuju meja petugas untuk mengambil kunci loker. Saat membuka loker, kok di tas plastiknya d headset bluetooth. Sebenarnya ini rezeki. Dapat gratisan heheh. Tapi saya langsung mengembalikan ke petugas perpustakaan



Setelah itu, kami pun muai menjelajah perpustakaan Jakarta yang merupakan perpustakaan favorit saya. Kali ini saya membebaskan boy memilih 2 buku yang mau dia pinjam. Saya cuti dulu pinjam novel hehehe. Setelah mencari, dia memilih 2 buku teknik informatika. Yang berhubungan dengan jurusan sekolahnya.


Tida terasa waktu sudah sore. Setelah salat asar kami memutus kan meninggalkan perpustakaan Jakarta. Mau pulan? Hoho.. tentu tida saya mengajak Didi ke Kota Tiua. Ada Jakarta festival Light di sana.


Komentar

  1. Waaahhh seru ya pak bambang akhirnya bisa ngajak didi jalan2 juga akhirnya setelah sekian lama ada aja halangannya yaaa..
    Bener2 quality time berdua ini setelah hunting buku lanjut menikmati senja di kota tua..ditunggu lanjutan cerita selanjutnyaa😊

    BalasHapus
  2. Saya mau kesini lagi paaak, kapan2 deh atur waktu. hehehe
    Tahun lalu saya pernah melipir, tapi sayangnya kelupaan buat nulis.. sampe sekarang :(. Jadilah, ini nunggu ada wahyu dulu biar draftnya bisa keluar, hahaha.

    Sayangnya kala saya kesana pak, itu ada hal yang kurang mengenakkan. AC gedung yang harusnya normal, tiba-tiba gangguan. Alhasil kami pun tak bisa berlama-lama, karena gerahhhnya bukan main. Semoga sekarang sudah ada perbaikan ya.

    BalasHapus
  3. Wah, beruntung bisa dapat loker ya. Sekarang perpus Cikini sering penuh deh. Mungkin adek2 yang di sana sekalian ngadem dan juga belajar ataupun bekerja. Sudah beberapa kali saya ke sana kudu antri dulu agar bisa dapat loker. Mungkin karena buru2 supaya yang antri bisa dapat giliran si empunya headset sampai nggak ngeh ya ketinggalan di kantong plastik.

    BalasHapus
  4. Haloo Mas Salam kenal sebelumnya..
    Wahh seru yaa jalan-jalannya.. Sebagai orang yang tinggal di pinggiran agak menceng sedikit. selalu Ter Aw kalau baca tulisan mengenai Kota Jakarta.. hihi. Berasa nggak ada habis-habisnya bikin saya bengong dan ingin menghabiskan waktu disana.. hehe

    Tapi katanya Jakarta Hiruk ya Mas? Tapi nggak apa. Soalnya ada banyak tempat pelarian yang ciamik kaya Perpus Cikini ini.. hihi. Jujur ya mas. Salah satu wishlistku dalam hidup adalah pengen bisa ke Perpustakaan Nasional.. Entah bisa kesampaiannya kapan.. hihi. Aku pengen banget kesana.. Terus pas tahu ada perpus Cikini juga pengen kesana.. hehe

    BalasHapus
  5. Wah senangnya menutup akhir tahun dengan wisata literasi ke perpustakaan Cikini di Taman Ismail Marzuki, jadi lebih bermakna ya liburannya, apalagi dengan family jalan-jalannya. Mudah-mudahan nanti kalau ke Jakarta bisa berkunjung juga ke perpustakaan Cikini ini, ulasannya lumayan sering lewat di beranda medsos saya, sepertinya nyaman banget ya

    BalasHapus
  6. Seru ya perjalanan naik KRL bareng sama Didi lanjut ke perpustakaan dan bisa sewa 2 buku buat dibawa pulang. Walaupun sempat hujan, malah jadi cerita tersendiri. Ditunggu cerita ke kota tuanya.

    BalasHapus
  7. Ini passnya Ipusnas kan ya pak?? Wkwkwkwk... Saya sendiri sering lupa passnya ipusnas. Beberapa kali appnya sering bikin jengkel pas lagi mood baca. :(

    Saya itu pengen banget bisa mampir ke TIIM lho Pak Bams, waktu itu alumni kampusku sempat travel ke TIIM ini kalau nggak salah pas pesta literasi di TIIM itu. Di sana kan sering ada acara literasi nasional ya kan. Perpusnya juga buagus sekarang.. :D

    BalasHapus
  8. Aku langsung membayangkan suasana teduh dalam perjalanan stasiun cikini ke TIM. Jalan kakinya lebih nyaman, walau rintik.

    Aku sendiri suka dengan perpus disana dan habis itu makan mie ayam yang legends itu hihi.

    BalasHapus
  9. seru banget baca ceritanya! Penutup tahun 2025 yang berkesan ya, Kak. Perjuangan merayu si Didi pakai jurus "uang jajan" dan camilan itu relate banget, khas ibu-ibu yang ingin quality time sama anak bujangnya.
    Salut juga tetap santai meski hujan turun di Cikini, memang sandal gunung dan payung lipat itu koentji! Perpustakaan Jakarta emang gak pernah gagal buat healing tipis-tipis, apalagi Didi sampai pilih buku IT, keren banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkqkqkqk iyaa bangett

      khas emak² klo ngerayu mah template nya kayak gituuu

      selalu seruuuu klo baca ulasan kak Bams

      Hapus
  10. Pemilihan tanggal yang sangat bijak, tanggal 30 Desember Jakarta tidak terlalu padat seperti tanggal 31 Desember pastinya dan menjelajah Perpustakaan Jakarta dekat dengan stasiun Cikini emang seru banget.

    Perpustakaan estetik, salah satu perpus favorit saya soalnya. Ternyata habis dari perpus lanjut ke Kotu, mantul.

    BalasHapus
  11. Matanya Didi mirip sama Pak Bams, mantap punya kesukaan yang sama dengan literasi.
    Saya seringnya kalau ke TIM turunnya di Stasiun Gondangdia lanjut naik Mikrotrans 10A, turun di halte TIM. Soalnya kalau jalan kaki dari stasiun Cikini adakalanya saya mager, Pak wkwkwk.

    BalasHapus
  12. Terimaksih ih pa bambang sudah menginspirasi , semoga aku hisa menanamkan minat baca minat datang ke perpus sama anak aku lah minimal , aku liat effort nya ih meni keren buat sampai ke perpus, perpus itu menyenangkan aku dulu suka ke perpus UPI ngadem disana ngerjain tugas setrlah lulus mah meni langka aku teh

    BalasHapus
  13. Jalan-jalan akhir tahun yang seru ya apalagi bisa bareng rekan dari Kompasiana dan Kreatoria. Jadi kalau mau masuk perpustakaan harus log in via aplikasi dulu ya Pak? Luas juga ya tempatnya, saya bakalan betah nih di perpustakaan Jakarta begini, pasti banyak banget koleksi bukunya.

    BalasHapus
  14. Wah aku juga pernah ke perpustakaan jakarta ini diajak mbak Helena waktu ke Jakarta. Tempatnya cakep banget dan bikin betah kalau mau membaca di sana

    BalasHapus
  15. Emang agak PR ya masuk2 websitenya itu haha. Apalagi kalau jarang ke sana, trus lupa password. Saya juga gitu soalnya saat terakhir ke sana wkwk. Maksudnya tu apa gak bisa dipermudah lagi gitu. Petugasnya aja yang ceklist kehadiran kita asal kita bisa nyebut nama atau misal nomor NIK atau dikasi nokor keanggotaan perpus hehe.
    Tapi di samping kekurangannya perpus TIM Cikiji emang asyik sih buat ngajakin anak2 main. Mereka bisa membaca,ortu bisa nyari referensi juga pepotoan #eh haha.
    Saya kalau abis dari sana suka makan Bakmi Roxy yang deket sana tu pak. Jadi kenyang deh hehe
    Wah itu siapa yg teledor ninggalin headset hehehe.
    Ngobrolin hujan dulu pernah ke area sana saat hujan, suasananya jadi agak syahdu gitu.
    Oh ya kemarin gak sekalian ngewar tiket planetarium pak?

    BalasHapus
  16. Favoriitt akuuh.. ke TIM.
    Kalau dari Bandung tuh yaa, mas Bams.. ada travel yang langsung njujug Cikini. Dan memang belum pernah naik transum ke Cikini..

    Rasanyaaa.. kalau melihat cuaca yang sedang ramah-ramahnya ((meski hujan, aku sebut ramah, karena alhamdulillah gak kerasa panas yaa..)), rasanyaaa.. patut mencoba banyak destinasi wisata Jakarta menggunakan transum.
    Ini bikin happy!

    BalasHapus
  17. Ah seru banget jalan jalan ke perpustakaan Jakarta
    Sekali jalan jalan bisa ke banyak tempat ya
    Biar banyak kenangan

    BalasHapus
  18. Perpustakaan Jakarta di Cikini ini memang enak buat baca santai atau ngerjain kerjaan karena fasilitasnya lengkap dan ruangannya lega. Lokasinya yang nyatu sama TIM juga bikin gampang sekalian menikmati acara literasi atau pameran yang lagi jalan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Seru Pergi Pulang Bogor-Cipanas lewat Jalur Puncak

  Foto : Dewi Puspa Selama ini, saya selalu mendengar orang pergi liburan ke puncak Bogor yang memang sepertinya mempunyai magnet tersendiri. Kadang kalau ada long weekend, pasti orang akan berbondong-bondong ke puncak. Makanya saya langsung teringat pernah nonton di televisi, liputan orang-orang yang menawarkan penginapan atau villa di pun pak Bogor. Mereka berdiri atau duduk di sepanjang jalan sambi memegang papan bertuliskan "Sewa Villa. Atau pernah juga saya menonton jasa Ganjal ban mobil saat posisi mobil sedang berada di tanjakan dan sedang macet. Ke Puncak Bogor, yuk! Rabu 26 Februari 2025, akhirnya saya merasakan sendiri perjalanan pergi pulang Bogor-Cipanas melalui puncak Bogor. Jadi ceritanya, saya diajak oleh ClicKompasiana & Kreatoria berkunjung ke Istana Kepresidenan Cipanas. Tentu saja saya senang sekali. Seperti mimpi saja bisa menginjakkan kaki di istana Kepresidenan seluas 26 Hektar itu. Foto : Kang Bugi Saya berangkat pagi naik KRL  dari stasiun Pondok Ci...

Akhirnya naik kereta api Rangkasbitung Merak setelah 2 kali Gagal

  Setelah gagal 2x naik kereta Api Rangkasbitung-Merak, akhirnya, pada hari minggu, 9 Maret 2025, saya berhasil naik  juga pada percobaan ketiga hahaha. Segitu senangnya saya hahaha. Keingian Naik Kereta Comuterline Rangkasbitung-Merak Sejak naik kereta Walahar PP dari Cikarang ke Karawang saat eksplor stasiun kereta Whoosh Karawang  lalu dilanjutkan ngebakso pertama kali di Karawang , saya kok ingin mencoba kereta lokal lainnya. Adalah Mbak Utari, teman blogger dan penulis cerita anak yang mempromosikan kereta lokal Rangkasbitung-Merak. Kebetulan Mbak Utari tugasnya di serang, jadi memang sering naik kereta commuter line itu. Oke siap. Namanya saya penasaran, makanya saya pun ingin segera mewujudkan list saya itu. Apalagi tiketnya sangat pas di hati dan kantong. Hanya 3000 rupiah saja. Maka pada suatu hari di hari libur nasional, saya pun meniatkan diri untuk mencoba naik kereta lokal Rangkasbitung-Merak. Sesuai arahannya, dari stasiun Pondok Cina Depok, saya menuju ke M...

Keuntungan Jalan-Jalan Saat Bulan Puasa

Puasa kok jalan-jalan? Apa tidak capek dan haus? Terus batal puasanya. Saat puasa bulan Ramadan kan enaknya ngadem rebahan di rumah sambil nonton drakor. Eh.. hahaha. Saya juga awalnya berpikiran seperti itu. Kayak kurang kerjaan saja ya, bulan puasa malah keluyuran ke tempat wisata. Memang tidak ada hari lain? Tapi, kalau dipikirkan terus, maka saya tidak akan pernah tahu, bagaimana rasanya jalan-jalan saat puasa Ramadan.  Namanya juga penasaran, kan? Pengi beda gitu dengan yang lainnya. Karena yang bed aitu.. sesuatu hahaha. Lagian kalau saya jalan-jalannya pas hari lebaran, itu sudah biasa.. halah.. Gayane saya ini. Apalagi saya kan freelance. Jadi dari segi waktu memang lebih fleksibel. Jadi pas lebaran, saat orang desak-desakan di tempat wisata atau bermacet-macet ria di jalan, saya sudah santai di rumah makan ketupat opor ayam, sambal goreng ati hahaha. Nah, jalan jalan pas puasa itu, pernah saya lakukan saat masih berada di Kebumen. Saya susuri beberapa Pantai pantai di kebu...